Selasa, 11 November 2014

Persiapan Dalam Berpidato


Dikalangan para ahli pidato, atau orator, atau retor terdapat suatu pemeo sebagai pegangan yang berbunyi sebagai berikut :
“quit  ascendit sine labore, descendit sine honore.”
artinya :siapa yang naik tanpa kerja, akan turun tanpa kehormatan.
dalam hubungannya dengan pidato, makna pemeo tesebut ialah bahwa seseorang yang berpidato tanpa melakukan persiapan, akanmengalami kegagalan; jika gagal, berarti kehormatannya akan jatuh. oleh karena itu, seseorang sebelum naik kemimbar harus melakukan persiapan terlebih dahulu secara seksama. berpidato langsung diatas mimbar menghadapi sejumlah hadirin berbeda dengan berpidato didepan mikrofon distudio atau menghadapi kamera televisi.
berpidato dari atas mimbar menghadapi hadirin secara tatap muka ada untungnya dan ada ruginya. yang dimaksudkan untung disini ialah bahwa si mimbarwan dapat mengetahui tanggapan para hadirin pada saat ia sedang pidato sehingga jika para hadirin tidak menaruh perhatian atau tidak responsive, ia dapat segera mengubah tehnik pidatonya. ruginhya ialah hadirin dapat menunjukkan ketidak senangannya secara spontan, yang tidak jarang berteriak menyuruh orang yang berpidato itu turun dari mimbar. dalam hal inilah makna descendit sine honore atau turun tanpa kehormatan sebagaimana disinggung diatas.
sebelum naik ke mimbar, jauh-jauh sebelumnya perlu ditelaah secara seksama, apakah hadirin yang akana dihadapinya itu bersifat homogen atau  heterogen. dan apakah jumlahnya relative sedikit atau banyak. khalayak yang jumlahnya sedikit akan bersifat rasional. khalayak yang jumlah banyak akan emosional, lebih-lebih kalau sifatnya heterogen. hadirin dengan segala sifatnya itu akan berkaitan dengan pesan yang akan disampaikan kepada mereka dan bahasa yang akan  digunakan. sebuah pidato akan berhasil apabila pesan atau materi yang akan disampaikan sesuai dengan kepentinga  hadirin. dan akan berhasil pula jika bahasa yang digunakan mudah dimengerti sepenuhnya oleh hadirin, mungkin bahasa daerah lebih komunikatif kalau hadirin rata-rata berpendidikan rendah, seperti penduduk desa misalnya.
ada dua cara yang dapat digunakan ketika akan naik mimbar, yakni cara tanpa naskah dan cara dengan naskah. cara mana yang sebaiknya dipakai banyak bergantung pada situasi, sifat pertemuan, pesan yang akan disampaikan, dan hadirin yang akan dihadapi.
a.       pdiato tanpa naskah
pidato tanpa naskah sering disebut pidato secara impromptu atau pidato secara raad libitum yang kadang-kadang disingkat ad lib. pidato dengan cara ini dianggap paling baik karena antara mimbarwan dengan hadirin terjadi personal contact atau kontak pribadi; kedua pihak saling menatap. keuntungan pidato tanpa naskah ini ialah bahwa hadirin menaruh kepercayaan penuh kepada simimbarwan, Karena apa yang dikatakannya adalah pencetusan dari idea tau pemikirannya sendiri. pidato tanpa naskah biasanya dilakukan dalam suatu pertemuan yang tidak menimbulkan banyak resiko, misalnya pidato seorang kepala jawatan dihadapan para karyawannya, pidato didesa atau rukun warga, pidato pada perayaan pernikahan.
meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa dalam pertemuan seperti itu, pidato boleh sembarangan sebab, bagaimanapun, sebuah pidato harus menarik hadirin. untuk itu harus ada persiapan. persiapan untuk pidato tanpa naskah dapat dilakukan dengan menyusun rancangan sederhana dengan menetapkan pokok-pokok yang akan disampaikan, maksudnya ialah agar dalam paparannya nanti tidak menyimpang dari tujuan atau tema. pokok-pokok tersebut dapat disimpan dalam benak atau ditulis dalam sehelai kertas; kalau tidak ada kertas tulis, diatas bungkus pun jadilah. yang penting dalam pidato dengan cara seperti itu ialah terpeliharannya kontak pribadi secara saling menatap.  meliirik kepada kertas kecil dengan butir-butir pokok uraian tadi dapat dilakukan secara sekilas tanpa kelihatan oleh hadirin.
ada orator-orator tertentu yang tidak pernah menggunakan naskah dalam situasi pertemuan apapun, baik resmi maupun tidak resmi. ini tidak berarti bahwa mereka tidak melakukan persiapan terlebih dahulu. bahkan ada yang  menyusun pidatonya secara tertulis  dulu mulai dari awal sampai akhir, kemudian dihafalkan. untuk membantu agar  terdapat kesinambungan, maka ditulis butir-butir tertentu diatas secarik kertas yang tidak tampak oleh hadirin.
tidak sedikit pula orator yang karena sudah terbiasa dan merasa yakin atas kemampuannya, berpidato tanpa bantuan catatan secara impromptu sepenuhnya, tetapi mempesona hadirin
b.      pidato dengan naskah
berpidato dengan menggunakan naskah ada keuntungannya, tetapi ada juga kerugiannya. yang dimaksud dengan keuntungan disini ialah bahwa  pidato yang dilakukan akan lancer karena naskahnya disusun jauh sebelumnya sehingga bahasanya baik dan benar, susunan kalimatnya teratur, kata-katanya tepat, dan kontinuitasnya terjamin. yang dimaksud kerugiannya ialah bahwa sewaktu pidato dilakukan, kepala terus menunduk membaca naskah sehingga sedikti sekali kontak pribadi yang penting itu, dan ada kemungkinan hadirin tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya karena mereka beranggapan pidato yang dibaca itu bukan buatan sendiri, melainkan hasil kerja orang lain. satu-satunya cara mengurangi kerugian tadi ialah lebih sering menatap hadirin agar lebih banyak terjadi kontak pribadi. dengan sendririnya akan berkurang pula rasa tidak percaya hadirin kepada simimbarwan tadi. akan fatal sekali apabila pidato dilakukan dengan membaca naskah, dan naskahnya sendiri, selain tidak berbobot isinya, juga tidak karuan sistematikanya.
Ø  sikap sebelum, sedang, dan sesudah pidato
ada dua persyaratan mutlak bagi seseorang yang akan muncul dalam mimbar atau forum untuk berpidato. syarat yang pertama adalah apa yang dinamakan source credibility atau kredibilitas sumber, dan yang kedua adalah source attractiveness atau daya tarik sumber.
            hal-hal yang menyangkut kredibilitas sumber telah diterangkan pada pembahasan dimuka mengenai penyusunan naskah pidato. seseorang yang muncul di atas mimbar sudah dengan sendirinya merupakan sumber yang dapat dipercaya sebab tiddaklah mungkin orang muncul dalam forum dan berbicara mengenai hal yang bukan bidangnya. seseorang yang berpidato mengenai suatu persoalan yang bukan bidangnya kemungkinan besar akan gagal dan akan jatuh kehormatannya.
            akan tetapi, meskipun seseorang ahli dalam bidangya, bila ia tidak memperhatikan syarat yang kedua tadi, yakni source attractiveness, kemungkinan besar akan gagal pula dalam pidatonya. seorang yang muncul diatas mimbar harus bersikap sedemikian rupa hingga sebelum berpidato, ketika sedang berpidato, dan seduadh berpidato menarik perhatian segenap hadirin.
a.       sebelum menuju mimbar
sebelum naik ke mimbar, ketika akan menjadi pusat perhatian haadirin, seorang mimbarwan sejal masih dirumah sudah harus memikirkan pakaian apa yang akan dikenakannya. akan janggal sekali apabila ia mengenakan kemeja tangan pendek dihadapan hadirin yang semuanya mengenakan pakaian resmi; jas berikut dasi. sebaliknya, akan janggal pula jika ia mengenakan pakaian resmi, lengkap mengenakan jas berikut dasi, dihadapan penduduk desa yang umunya hidup ddalam keadaan serba tidak cukup. apalagi kalau yang dipidatokannya soal hidup sederhana.
            memang, tidak jarang seseorang dihadapkan pada suatu situasi dimana tidak tahu pasti pakaian apa yang akan dikenakan oleh hadirin, apakah pakaian resmi, setengah resmi, atau bebas. dalam menghadapi situasi seperti itu, barang kali mengenakan setelan safari adalah tindakan yang aman sebab tidak janggal untuk dipakai dalam situasi apapun.
            sikap simpatik sudah harus ditunjukkan ketika ia berada ditengah-tengah pertemuan sebelum dipersiapkan naik ke mimbar. sikap simpatik tidak selalu berarti mengobal senyum, tetapi muka kecut harus dibuang sama sekali; wajar saja. bila pembawa acara mempersilahkan naik mimbar, maka mulai saat itulah si mimbarwan menjadi pusat seluruh  hadirin, sejak berdiri sampai duduk lagi nanti. sejak itu pula sikap tenang harus ditunjukkan; sikap tenang memperlihatkan kepada  percaya diri.
            sebelum berjalan menuju mimbar, akan simpatik tampaknya jika ia member hormat terlebih dahulu kepada pejabat atau tokoh yang duduk dideretan kursi terdepan.
b.      cara bersikap dimimbar
sejak berdiri dimimbar, simimbarwan akan menghadapi tatapan mata hadirin yang seluruhnya memandang kepadanya. bagi seseorang yang sudah terbiasa berpidato, tatapan seperti itu tidak akan berpengaruh apa-apa. akan tetapi, bagi seseorang yang jarang berpidato, apalagi yang baru pertama kali melakukannya, sorotan mata yang menatap kepadanya akan membuatnya gugup, gemetar, dan gentar. ini biasa dinamakan gentar mimbar atau demam panggung (podium vrees)
            cara untuk menghilangkan suasana yang biasa membuat gugup dan gagap seperti itu ialah :
1)      percaya kepada diri sendiri karena sudah melakukan persiapan
2)      bersikap tenang, tidak menunjukkan ketakutan;
3)      menghirup nafas panjang dan dalam tanpa terlihat oleh hadirin
4)      menatap hadirin pada bagian atas matanya, bukan pada matanya yang sedang menyorotkan sinar pandangan
demikian beberapa hal untuk menghilangkan rasa gentar dan gemetar.
sesudah memberikan salam sebagai penunjukkan rasa hormat kepada hadirin, dan sejak mulai sampai mengakhiri pidatonya, seorang mimbarwan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)      berbicara dengan gaya orisinal, tidak meniru gaya pidato orang lain;
2)      berbicara dengan sikap sama-sama sederajat (talk with the people), tidak menggurui (talk to the people)
3)      berbicara dengan nada naik turun, tidak datar yang menjemukan;
4)      berbicara dengan mengatur tempo agar dapat didengar dan dicerna jelas oleh hadirin, ttegas kapan harus berhenti lama (titik) dan jelas bilamana mesti berhenti sejenak (koma)
5)      berbicara dengan memberikan tekanan-tekanan (stress) pada hal-hal tertentu utnuk mendapat perhatian khusus dari hadirin;
6)      bebricara dengan tetap memelihara kontak pribadi (personal contanct) dengan hadirin
7)      berbicara dengan menunjukkan wajah yang cerah untuk menghadapi simpati hadirin
satu hal yang perlu diperhatikan oleh seorang memibarwan ialah menghadapi hadririn yang merupakan kelompok kecil (small group) harus berbeda dengan menghadapi kelompok besar (large group), misalnya rapat raksasa.
            ddalam komunikasi kelompok kecil (small group communication), suatu pesan akan ditanggapi oleh komunikan secara rasional. para hadirin, ketika sedang mendengarkan pidato, akan menilai isi pidato itu benar atau tidak, logis atau tidak, relevan atau tidak, dan sebagainya.
            dalam komunikasi kelompok kecil, suatu pesan akan ditanggapi oleh komunikan secara emosional, apalagi kalau hadirin itu bersifat missal dan heterogen. hadirin tidak akan semoat berfikir secara saksama, tetapi didominasi oleh emosi yang meluap. dalam situasi seperti itu akan terjadi apa yang disebut contagion mentale atau wabah mental, yakni jika ada seorang saja yang bertepuk tangan. kalau seorang saja berteriak misalnya “hidup pancasila!!!” maka serempak pula seluruh hadirin mengikutinya. hal ini membahayakan seorang mimbarwan atau orator bila pidatonya tidak menarik, baik materinya maupun gayanya.
seandainya seorang saja berteriak “TURUUUNN!!” maka hadirin lainnya secara serempak akan mengikutinya. dalam hubungan ini sikomunikator harus peka dan tanggap. jika tampak gejala yang mengarah kepada situasi seperti itu, ia harus segera mengubah taktik komunikasinya. misalnya dengan menampilkan hal yang menarik perhatian, yang diperkirakan bersangkutan dengan kebutuhan hidup hadirin atau mempersiapkan diri untuk mengakgiri pidatonya dengan terlebih dahulu menampilkan hal yang mengesankan. dengan demikian, ktiks is meninggalkan mimbar, ia tidak kehilangan kehormatan.
            adakalanya seorang mimbarwan hanya muncul beberapa  menit dan mengucapkan beberapa kalimat saja. misalnya dalam suatu pertemuan  yang menurut susuanan acara, sesudah acara sambutan-sambutan akan disajikan hiburan. jika ia hanya muncul sejenak diforum itu, ia akan mendapat simpati dengan tepuk tangan yang meriah sebab hadirin lebih banyak mengharapkan sajian hiburannya daripada pidato-pidato, dan ingin segera menikmati hiburan itu.
c.       saat meninggalkan mimbar
yang tidak kurang pentingnya dalam public speaking atau pidato didepan umum itu ialah saat meninggalkan mimbar. sesudah mengucapkan salam akhir sebagai tanda hormat kepada hadirin, sikap tenang dan tertib harus tetap dipelihara. jika pidatonya menggunakan naskah, lembaran-lembaran kertas itu hendaknya dilipat dahulu dengan tenang, dan dengan  tenang pula dimasukkan kedalam saku baju. demikian pula jika menggunakan kaca mata untuk membaca.
            turunlah dari mimbar dengan wajah ceria disertai sunggingan senyum dan dengan langkah yang mantap dan tenang. akan dinilai simpatik oleh hadirin bila sebelum duduk terlebih dahulu ia memberi hormat lagi kepada orang penting yang telah diberi hormat ketika ia akan menuju mimbar tadi.
itulah beberapa hal mengenai retorika atau public speaking atau pidato dalam praktek, yang kiranya penting untuk diperhatikan, terutama oleh para pemula.
            pembaca buku ini cepat atau lambat bakal menjadi pemimpin, bahkan bukan tidak mungkin pada saat ini berkedudukan sebagai pemimpin. sebagai pemimpin, anda tidak dapat meghindarkan diri dari keharusan berpidato, sedangkan kemampuan pidato itu menyangkut wibawa dan kehormatan. oleh karena itu, memahami teori dan praktek pidato adalah mutlak bagi seorang pemimpin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biografi Ir Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) ia merupakan  Presiden In...