Dikalangan para ahli pidato, atau orator, atau retor terdapat suatu pemeo sebagai pegangan yang berbunyi sebagai berikut :
“quit
ascendit sine labore, descendit sine
honore.”
artinya
:siapa yang naik tanpa kerja, akan turun tanpa kehormatan.
dalam
hubungannya dengan pidato, makna pemeo tesebut ialah bahwa seseorang yang
berpidato tanpa melakukan persiapan, akanmengalami kegagalan; jika gagal,
berarti kehormatannya akan jatuh. oleh karena itu, seseorang sebelum naik
kemimbar harus melakukan persiapan terlebih dahulu secara seksama. berpidato
langsung diatas mimbar menghadapi sejumlah hadirin berbeda dengan berpidato
didepan mikrofon distudio atau menghadapi kamera televisi.
berpidato
dari atas mimbar menghadapi hadirin secara tatap muka ada untungnya dan ada
ruginya. yang dimaksudkan untung disini ialah bahwa si mimbarwan dapat
mengetahui tanggapan para hadirin pada saat ia sedang pidato sehingga jika para
hadirin tidak menaruh perhatian atau tidak responsive, ia dapat segera mengubah
tehnik pidatonya. ruginhya ialah hadirin dapat menunjukkan ketidak senangannya
secara spontan, yang tidak jarang berteriak menyuruh orang yang berpidato itu
turun dari mimbar. dalam hal inilah makna descendit sine honore atau turun
tanpa kehormatan sebagaimana disinggung diatas.
sebelum
naik ke mimbar, jauh-jauh sebelumnya perlu ditelaah secara seksama, apakah
hadirin yang akana dihadapinya itu bersifat homogen atau heterogen. dan apakah jumlahnya relative
sedikit atau banyak. khalayak yang jumlahnya sedikit akan bersifat rasional.
khalayak yang jumlah banyak akan emosional, lebih-lebih kalau sifatnya
heterogen. hadirin dengan segala sifatnya itu akan berkaitan dengan pesan yang
akan disampaikan kepada mereka dan bahasa yang akan digunakan. sebuah pidato akan berhasil
apabila pesan atau materi yang akan disampaikan sesuai dengan kepentinga hadirin. dan akan berhasil pula jika bahasa
yang digunakan mudah dimengerti sepenuhnya oleh hadirin, mungkin bahasa daerah
lebih komunikatif kalau hadirin rata-rata berpendidikan rendah, seperti
penduduk desa misalnya.
ada dua cara yang dapat digunakan ketika akan naik
mimbar, yakni cara tanpa naskah dan cara dengan naskah. cara mana yang
sebaiknya dipakai banyak bergantung pada situasi, sifat pertemuan, pesan yang
akan disampaikan, dan hadirin yang akan dihadapi.
a. pdiato tanpa naskah
pidato tanpa naskah sering disebut pidato secara impromptu
atau pidato secara raad libitum yang kadang-kadang disingkat ad lib. pidato
dengan cara ini dianggap paling baik karena antara mimbarwan dengan hadirin
terjadi personal contact atau kontak pribadi; kedua pihak saling menatap.
keuntungan pidato tanpa naskah ini ialah bahwa hadirin menaruh kepercayaan
penuh kepada simimbarwan, Karena apa yang dikatakannya adalah pencetusan dari
idea tau pemikirannya sendiri. pidato tanpa naskah biasanya dilakukan dalam
suatu pertemuan yang tidak menimbulkan banyak resiko, misalnya pidato seorang
kepala jawatan dihadapan para karyawannya, pidato didesa atau rukun warga,
pidato pada perayaan pernikahan.
meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa dalam
pertemuan seperti itu, pidato boleh sembarangan sebab, bagaimanapun, sebuah
pidato harus menarik hadirin. untuk itu harus ada persiapan. persiapan untuk
pidato tanpa naskah dapat dilakukan dengan menyusun rancangan sederhana dengan
menetapkan pokok-pokok yang akan disampaikan, maksudnya ialah agar dalam
paparannya nanti tidak menyimpang dari tujuan atau tema. pokok-pokok tersebut
dapat disimpan dalam benak atau ditulis dalam sehelai kertas; kalau tidak ada
kertas tulis, diatas bungkus pun jadilah. yang penting dalam pidato dengan cara
seperti itu ialah terpeliharannya kontak pribadi secara saling menatap. meliirik kepada kertas kecil dengan
butir-butir pokok uraian tadi dapat dilakukan secara sekilas tanpa kelihatan
oleh hadirin.
ada orator-orator tertentu yang tidak pernah
menggunakan naskah dalam situasi pertemuan apapun, baik resmi maupun tidak
resmi. ini tidak berarti bahwa mereka tidak melakukan persiapan terlebih
dahulu. bahkan ada yang menyusun
pidatonya secara tertulis dulu mulai
dari awal sampai akhir, kemudian dihafalkan. untuk membantu agar terdapat kesinambungan, maka ditulis
butir-butir tertentu diatas secarik kertas yang tidak tampak oleh hadirin.
tidak sedikit pula orator yang karena sudah terbiasa
dan merasa yakin atas kemampuannya, berpidato tanpa bantuan catatan secara
impromptu sepenuhnya, tetapi mempesona hadirin
b. pidato dengan naskah
berpidato dengan menggunakan naskah ada
keuntungannya, tetapi ada juga kerugiannya. yang dimaksud dengan keuntungan
disini ialah bahwa pidato yang dilakukan
akan lancer karena naskahnya disusun jauh sebelumnya sehingga bahasanya baik
dan benar, susunan kalimatnya teratur, kata-katanya tepat, dan kontinuitasnya
terjamin. yang dimaksud kerugiannya ialah bahwa sewaktu pidato dilakukan,
kepala terus menunduk membaca naskah sehingga sedikti sekali kontak pribadi
yang penting itu, dan ada kemungkinan hadirin tidak menaruh kepercayaan
sepenuhnya karena mereka beranggapan pidato yang dibaca itu bukan buatan
sendiri, melainkan hasil kerja orang lain. satu-satunya cara mengurangi
kerugian tadi ialah lebih sering menatap hadirin agar lebih banyak terjadi
kontak pribadi. dengan sendririnya akan berkurang pula rasa tidak percaya
hadirin kepada simimbarwan tadi. akan fatal sekali apabila pidato dilakukan
dengan membaca naskah, dan naskahnya sendiri, selain tidak berbobot isinya,
juga tidak karuan sistematikanya.
Ø sikap sebelum, sedang, dan sesudah pidato
ada dua persyaratan mutlak bagi seseorang yang akan
muncul dalam mimbar atau forum untuk berpidato. syarat yang pertama adalah apa
yang dinamakan source credibility atau kredibilitas sumber, dan yang kedua
adalah source attractiveness atau daya tarik sumber.
hal-hal
yang menyangkut kredibilitas sumber telah diterangkan pada pembahasan dimuka
mengenai penyusunan naskah pidato. seseorang yang muncul di atas mimbar sudah
dengan sendirinya merupakan sumber yang dapat dipercaya sebab tiddaklah mungkin
orang muncul dalam forum dan berbicara mengenai hal yang bukan bidangnya.
seseorang yang berpidato mengenai suatu persoalan yang bukan bidangnya
kemungkinan besar akan gagal dan akan jatuh kehormatannya.
akan
tetapi, meskipun seseorang ahli dalam bidangya, bila ia tidak memperhatikan
syarat yang kedua tadi, yakni source attractiveness, kemungkinan besar akan
gagal pula dalam pidatonya. seorang yang muncul diatas mimbar harus bersikap
sedemikian rupa hingga sebelum berpidato, ketika sedang berpidato, dan seduadh
berpidato menarik perhatian segenap hadirin.
a. sebelum menuju mimbar
sebelum naik ke mimbar, ketika akan menjadi pusat
perhatian haadirin, seorang mimbarwan sejal masih dirumah sudah harus
memikirkan pakaian apa yang akan dikenakannya. akan janggal sekali apabila ia
mengenakan kemeja tangan pendek dihadapan hadirin yang semuanya mengenakan
pakaian resmi; jas berikut dasi. sebaliknya, akan janggal pula jika ia
mengenakan pakaian resmi, lengkap mengenakan jas berikut dasi, dihadapan
penduduk desa yang umunya hidup ddalam keadaan serba tidak cukup. apalagi kalau
yang dipidatokannya soal hidup sederhana.
memang,
tidak jarang seseorang dihadapkan pada suatu situasi dimana tidak tahu pasti
pakaian apa yang akan dikenakan oleh hadirin, apakah pakaian resmi, setengah
resmi, atau bebas. dalam menghadapi situasi seperti itu, barang kali mengenakan
setelan safari adalah tindakan yang aman sebab tidak janggal untuk dipakai
dalam situasi apapun.
sikap
simpatik sudah harus ditunjukkan ketika ia berada ditengah-tengah pertemuan
sebelum dipersiapkan naik ke mimbar. sikap simpatik tidak selalu berarti
mengobal senyum, tetapi muka kecut harus dibuang sama sekali; wajar saja. bila
pembawa acara mempersilahkan naik mimbar, maka mulai saat itulah si mimbarwan
menjadi pusat seluruh hadirin, sejak
berdiri sampai duduk lagi nanti. sejak itu pula sikap tenang harus ditunjukkan;
sikap tenang memperlihatkan kepada
percaya diri.
sebelum
berjalan menuju mimbar, akan simpatik tampaknya jika ia member hormat terlebih
dahulu kepada pejabat atau tokoh yang duduk dideretan kursi terdepan.
b. cara bersikap dimimbar
sejak berdiri dimimbar, simimbarwan akan menghadapi
tatapan mata hadirin yang seluruhnya memandang kepadanya. bagi seseorang yang
sudah terbiasa berpidato, tatapan seperti itu tidak akan berpengaruh apa-apa.
akan tetapi, bagi seseorang yang jarang berpidato, apalagi yang baru pertama
kali melakukannya, sorotan mata yang menatap kepadanya akan membuatnya gugup,
gemetar, dan gentar. ini biasa dinamakan gentar mimbar atau demam panggung
(podium vrees)
cara
untuk menghilangkan suasana yang biasa membuat gugup dan gagap seperti itu
ialah :
1)
percaya kepada
diri sendiri karena sudah melakukan persiapan
2)
bersikap tenang,
tidak menunjukkan ketakutan;
3)
menghirup nafas
panjang dan dalam tanpa terlihat oleh hadirin
4)
menatap hadirin
pada bagian atas matanya, bukan pada matanya yang sedang menyorotkan sinar
pandangan
demikian beberapa hal untuk menghilangkan rasa
gentar dan gemetar.
sesudah memberikan salam sebagai penunjukkan rasa
hormat kepada hadirin, dan sejak mulai sampai mengakhiri pidatonya, seorang
mimbarwan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)
berbicara dengan
gaya orisinal, tidak meniru gaya pidato orang lain;
2)
berbicara dengan
sikap sama-sama sederajat (talk with the people), tidak menggurui (talk to the
people)
3)
berbicara dengan
nada naik turun, tidak datar yang menjemukan;
4)
berbicara dengan
mengatur tempo agar dapat didengar dan dicerna jelas oleh hadirin, ttegas kapan
harus berhenti lama (titik) dan jelas bilamana mesti berhenti sejenak (koma)
5)
berbicara dengan
memberikan tekanan-tekanan (stress) pada hal-hal tertentu utnuk mendapat
perhatian khusus dari hadirin;
6)
bebricara dengan
tetap memelihara kontak pribadi (personal contanct) dengan hadirin
7)
berbicara dengan
menunjukkan wajah yang cerah untuk menghadapi simpati hadirin
satu hal yang perlu diperhatikan oleh seorang
memibarwan ialah menghadapi hadririn yang merupakan kelompok kecil (small
group) harus berbeda dengan menghadapi kelompok besar (large group), misalnya
rapat raksasa.
ddalam
komunikasi kelompok kecil (small group communication), suatu pesan akan
ditanggapi oleh komunikan secara rasional. para hadirin, ketika sedang
mendengarkan pidato, akan menilai isi pidato itu benar atau tidak, logis atau
tidak, relevan atau tidak, dan sebagainya.
dalam
komunikasi kelompok kecil, suatu pesan akan ditanggapi oleh komunikan secara
emosional, apalagi kalau hadirin itu bersifat missal dan heterogen. hadirin
tidak akan semoat berfikir secara saksama, tetapi didominasi oleh emosi yang
meluap. dalam situasi seperti itu akan terjadi apa yang disebut contagion
mentale atau wabah mental, yakni jika ada seorang saja yang bertepuk tangan.
kalau seorang saja berteriak misalnya “hidup pancasila!!!” maka serempak pula
seluruh hadirin mengikutinya. hal ini membahayakan seorang mimbarwan atau
orator bila pidatonya tidak menarik, baik materinya maupun gayanya.
seandainya seorang saja berteriak “TURUUUNN!!” maka
hadirin lainnya secara serempak akan mengikutinya. dalam hubungan ini
sikomunikator harus peka dan tanggap. jika tampak gejala yang mengarah kepada
situasi seperti itu, ia harus segera mengubah taktik komunikasinya. misalnya
dengan menampilkan hal yang menarik perhatian, yang diperkirakan bersangkutan
dengan kebutuhan hidup hadirin atau mempersiapkan diri untuk mengakgiri
pidatonya dengan terlebih dahulu menampilkan hal yang mengesankan. dengan
demikian, ktiks is meninggalkan mimbar, ia tidak kehilangan kehormatan.
adakalanya
seorang mimbarwan hanya muncul beberapa menit
dan mengucapkan beberapa kalimat saja. misalnya dalam suatu pertemuan yang menurut susuanan acara, sesudah acara
sambutan-sambutan akan disajikan hiburan. jika ia hanya muncul sejenak diforum
itu, ia akan mendapat simpati dengan tepuk tangan yang meriah sebab hadirin
lebih banyak mengharapkan sajian hiburannya daripada pidato-pidato, dan ingin
segera menikmati hiburan itu.
c. saat meninggalkan mimbar
yang tidak kurang pentingnya dalam public speaking
atau pidato didepan umum itu ialah saat meninggalkan mimbar. sesudah
mengucapkan salam akhir sebagai tanda hormat kepada hadirin, sikap tenang dan
tertib harus tetap dipelihara. jika pidatonya menggunakan naskah,
lembaran-lembaran kertas itu hendaknya dilipat dahulu dengan tenang, dan dengan
tenang pula dimasukkan kedalam saku
baju. demikian pula jika menggunakan kaca mata untuk membaca.
turunlah
dari mimbar dengan wajah ceria disertai sunggingan senyum dan dengan langkah
yang mantap dan tenang. akan dinilai simpatik oleh hadirin bila sebelum duduk
terlebih dahulu ia memberi hormat lagi kepada orang penting yang telah diberi
hormat ketika ia akan menuju mimbar tadi.
itulah beberapa hal mengenai retorika atau public
speaking atau pidato dalam praktek, yang kiranya penting untuk diperhatikan,
terutama oleh para pemula.
pembaca
buku ini cepat atau lambat bakal menjadi pemimpin, bahkan bukan tidak mungkin
pada saat ini berkedudukan sebagai pemimpin. sebagai pemimpin, anda tidak dapat
meghindarkan diri dari keharusan berpidato, sedangkan kemampuan pidato itu
menyangkut wibawa dan kehormatan. oleh karena itu, memahami teori dan praktek
pidato adalah mutlak bagi seorang pemimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar