Rabu, 30 November 2016

KESULITAN BELAJAR


Hakikat kesulitan belajar
Kesulitan belajar atau learning disability yang biasa juga disebut istilah learning disorder atau learning difficulty adalah suatu kelainan yang membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif. Faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar tidak mudah untuk ditetapkan karena faktor tersebut bersifat kompleks. Bahkan, faktor penyebab tersebut tidak dapat diketahui, namun mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima dan memproses informasi dan kemampuan dalam belajar bidang – bidang studi tertentu.
Kesulitan belajar tidak berhubungan langsung dengan tingkat inteligensi dari individu yang mengalami kesulitan, namun indivdu tersebut mengalami kesulitan dalam menguasai ketrampilan belajar dan dalam melaksanakan tugas – tugas spesifik yang dibutuhkan dalam belajar seperti yang dilakukan dalam pendekatan dan metode pembelajaran konvensional. Kesulitan belajar merupakan isu yang berkepanjangan didalam dunia pendidikankarena kelainan ini sulit untuk diatasi, namun dengan dukungan dan intervensi yang tepat, individu yang berkesulitan belajar dapat melaksanakan tugas – tugas belajarnya dan sukses dalam pelajarannya, dan bahkan memiliki karier yang cemerlang setelah mereka dewasa.
Kesulitan belajar dapat dipahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh berbagai ahli dan asosiasi ahli kesulitan belajar. Reid (1986:12) mengemukakan pendapatnya bahwa kesulitan belajar biasanya tidak dapat diidentifikasi sampai anak mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas – tugas akademik yang harus dilakukannya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa siswa yang teridentifikasi mengalami kesulitan belajar memiliki cirri – cirri, antara lain seperti berikut ini :
Memiliki tingkat intelligensi (IQ) normal, bahkan diatas normal, atau sedikit dibawah normal berdasarkan tes  IQ, namun siswa memiliki IQ sedikit dibawah normal bukanlah karena IQ-nya yang dibawah normal, akan tetapi kesulitan belajar yang dialaminya menyebabkan ia mengalami kesulitan dalam menjalani tes IQ sehingga memperoleh score yang rendah.
Mengalami kesulitan dalam beberapa mata pelajaran, tetapi menunjukan nilai yang baik pada mata pelajaran yang lain.
Kesulitan belajar yang dialami siswa yang berkesulitan belajar berpengaruh terhadap keberhasilan belajar yang dicapainya sehingga siswa tersebut dapat dikategorikan kedalam lower achiever (siswa dengan pencapaian hasil belajar dibawah potensi yang dimilikinya).
    Secara tradisional, siswa yang mengalami kesulitan belajar termasuk ke dalam individu yang mengalami penyimpangan dalam perkembangannya, namun tidak dapat dimasukan kedalam kelompok individu yang mengalami keterbelakangan mental atau tuna grahita karena mereka memiliki tingkat inteligensi yang normal, bahkan diatas normal.
    Kesadaran untuk tidak memasukkan siswa yang mengalami kesulitan belajar kedalam kelompok tuna grahita karena individu tersebut belum tentu dapat dikelompokkan kedalam kelompok tuna grahita, walaupun ia membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus untuk beberapa mata pelajaran, semakin meningkat. Pada saat ini, pelayanan pendidikan secara khusus telah diberikan kepada siswa berkesulitan belajar, walaupun belum di lakukan secara efektif.

Sumber :
Jamaris,Martini.2014.”Kesulitan Belajar.”Perspektif, Assessment, Dan Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini Dan Usia Sekolah”.Bogor:Penerbit Ghalia Indonesia

Jumat, 11 November 2016

Penggunaan metode dalam pembelajaran




            Dalam melakukan pembelajaran tentu dibutuhkan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, berikut penulis sampaikan merode yang dapat diterapkan di dalam pembelajaran, pada dasarnya semua metode pembelajaran itu baik,, hanya saja tinggal kita sebagai pendidik untuk dapat memilih metode yang tepat dan sesuai dengan materi pembelajaran,, semoga bermanfaat
1.      Metode ceramah
            Ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat – alat bantu seperti gambar dan audio visual lainnya. Ceramah adalah penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, ceramah juga sebagai kegiatan memberikan informasi dengan kata – kata sering dengan mengaburkan dan kadang – kadang ditafsirkan salah. Kadang – kadang terjadi pula orang baru saja mengikuti ceramah, jika ditanya, tidak tahu apa – apa. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah Karena penceramahnya kurang pandai menyampaikan informasi dan mungkin pulan karena khalayaknya bukan pendengar yang baik. Karena itu, alat utama dalam metode ceramah ini adalah berhubungan dengan siswa menggunakan bahasa lisan.
            Peranan siswa dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh guru. Disamping itu, mungkin pula disebabkan oleh sifat metodenya sendiri, yaitu : (1) metode ceramah tidak dapat memberikan kesempatan untuk berdiskusi memecahkan masalah sehingga proses menyerap pengetahuannya kurang tajam. (2) metode ceramah kurang member kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keberanian mengemukakan pendapatnya. (3) pertanyaan lisan dalam ceramah kurang dapat ditangkap oleh pendengarannya, apalagi digunakan kata – kata asing dan (4) metode ceramah kurang cocok dengan tingkah laku kemampuan anak yang masih kecil. Taraf berfikir anak masih berada dalam taraf yang kurang konkret.
            Agar ceramah itu menjadi metode yang baik, perlu diperhatikan hal berikut : (1) metode ceramah digunakan jika jumlah khalayak cukup banyak. (2) metode ceramah dipakai jika guru akan memperkenalkan materi pelajaran baru. (3) metode ceramah dipakai khalayaknya telah mampu menerima informasi melalui kata – kata, (4) sebaiknya ceramah diselingi oleh penjelasan melalui gambar dan alat – alat visual lainnya, dan (5) sebelum ceramah dimulai, sebaiknya guru berlatih dulu memberikan ceramah.
            Dalam kehidupan sehari – hari disekolah metode ceramah paling popular dikalangan guru. Sebelum metode lain yang dipakai untuk mengajar, metode ceramah yang paling dulu digunakan. Bagi kita bukanlah metode ceramah itu harus dihilangkan sama sekali, melainkan bagaimana menggunakan metode ceramah yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, disarankan agar guru – guru mengikuti langkah – langkah sebagai berikut  :
Pertama : melakukan pendahuluan sebelum bahan baru diberikan dengan cara sebagai berikut : (1) menjelaskan tujuan lebih dulu kepada peserta didik dengan maksud agar peserta didik mengetahui arah kegiatannya dalam belajar, bahkan tujuan itu dapat membangkitkan motivasi belajar jika bertalian dengan kebutuhan mereka. (2) setelah itu baru dikemukakan pokok – pokok materi yang akan di bahas. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik melihat luasnya bahan pelajaran yang akan di pelajarinya, dan (3) memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya. Caranya adalah dengan pertanyaan – pertanyaan yang menarik perhatian merreka.
Kedua : menyajikan bahan baru dengan memperhatikan factor – factor sebagai berikut : (1) perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap terpelihara. Semangat  mengajar member bantuan sepenuhnya dalam memelihara pperhatian peserta didik kepada pelajaran, (2) menyajikan pelajaran secara sistematis. Tidak terbelit – terbelit, dan tidak meloncat – loncat, (3) kegiatan belajar mengajar diciptakan secara variatif. Jangan membiarkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan, tetapi beri kesempatan untuk berfikir, dan berbuat. Misalnya pelatihan mengerjakan tugas, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau melihat peragaan. (4) member ulangan pelajaran kepada response jawaban yang salah dan benar perlu ditanggapi sebaik – baiknya, (5) membangkitkan motivasi belajar secara terus menerus selama pelajaran berlangsung. Motivasi belajar akan selalu tumbuh jika situasi belajar menyenangkan, dan (6) menggunakan media pelajaran yagn variatif yang sesuai dengan tujuan pelajaran.
Ketiga : menutup pelajaran pada akhir pelajaran, kegiatan yang perlu diperhatikan pada penutupan itu adalah sebagai berikut : (1) mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan, dilakukan oleh peserta didik dibawah bimbingan guru. (2) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanggapi materi pelajaran yagn telah diberikan terutama mengenai hubungan dengan pelajaran lain dan (3) melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk mengukur perubahan tingkah laku.


2.      Metode Tanya jawab (respons)
            Pendekatan dalam mengajar umumnya menempuh dua macam cara, yaitu memberikan stimulasi dan mengadakan pengarahan aktivitas belajar. Banyak yang dapat kita bicarakan mengenai teknik mengajar yang baik, antara lain teknik bertanya. Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berfikir. Melalui pertanyaan peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan itu ia berifikir menghubung – hubungkan bagian pengetahuan yang ada pada dirinya dengan isi pertanyaan itu. Jawaban yang dapat segera diperoleh jika isi pertanyaan banyak kaitannya dengan pengetahuan yang ada pada dirinya. Jika jawaban yang diminta belum siap dimilikinya. Maka hal ini mendorong untuk menemukannya, ia akan menjelajahi data – data jawaban melalui berbagai cara yang tepat.
            Proses yang dilakukan adalah dengan membaca, meneliti atau diskusi. Membaca informasi dari berbagai sumber adalah salah satu tehnik untuk menentukan jawaban. Penelitian dilaboratorium, dilapangan, dimusium, atau ditempat – tempat sumber belajar lainnya juga merupakan cara untuk menemukan jawaban. Jika pencarian jawaban dilakukan melalui penelitian atau membaca informasi atau berbagai sumber sebanyak – banyaknya maka guru telah berhasil menciptakan suasana belajar yang baik. Kegiatan belajar seperti itu sangat membantu dalam membina manusia seutuhnya.
            Jika kita hayati pengalaman kita mengajar disekolah, kadang – kadang kita berintrospeksi, apakah yang dilakukan itu telah cukup memberi  stimulus pada peserta didik untuk belajar sesungguhnya, apakah peserta didik terbangkit atau mendorongnya untuk belajar yang baik disekolah atau dirumah. Kunci pokok kehadiran stimuli belajar antara lain adalah pertanyaan yang diajukan oleh gurunya. Orang berpendapat bahwa pendapat itu adalah membuka jalan kearah yang baik dalam belajar. Dengan pertanyaan itu peserta didik akan segera mulai belajar sesungguhnya (meaningful learning).
            Jika dilihat dari intensitasnya, pertanyaan itu ada yang baik dan ada yang jelek. Pertanyaan yang baik ditandai oleh : (1) adanya respon dari pihak peserta didik untuk menjawabnya, jika jawabannya sulit ditemukan, peserta didik tidak putus semangat untuk mencarinya dari berbagai sumber. Kadang – kadang melakukan penelitian atau membaca informasi dari buku, surat kabar atau majalah. Jadi, pertanyaan yang baik itu akan menumbuhkan berbagai respon untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat. (2) adanya rasa tidak puas atas pertanyaan yang diberikan, dorongan yang menumbuhkannya adalah antara lain persaingan diantara mereka untuk memperoleh pujian dan nilai yang baik. Karenanya mereka selalu giat untuk selalu mencari dan menemukan jawaban yang tepat. (3) adanya pertanyaan yang tidak terlampau menghendaki jawaban “ya” atau “bukan”. Pertanyaan seperti “apakah ibukota sumatera utara ?” akan lain fungsinya dengan pertanyaan “apa persyaratan bagi berdirinya suatu Negara ?”. dari kedua pertanyaan itu dapat dibedakan bahwa  pertanyaan pertama hanya meminta jawaban berdasarkan ingatan, jawabannya bersifat fakta, dan untuk menjawabnya tidak memerlukan proses pemikiran yang dalam dan karenanya, jawabannya mudah ditemukan. Lain halnya dengan pertanyaan kedua, pertanyaan ini banyak menuntut pikiran yang mendalam. Dalam menjawabnya selain harus membaca informasi sebanyak – banyaknya, peserta didik harus menjelajahi pembuktian – pembuktian yang menunjang kebenaran jawaban tersebut. Jika pertanyaan tersebut kita telaah secara mendalam, tampak bahwa pertanyaan kedua mengundang banyak aktivitas belajar, dan (4) pertanyaan yang jelas dan mudah dipahami. Pertanyaan yang jelas biasanya ditandai oleh pemakaian bahasa yang sederhana, singkat dan padat.
            Pertanyaan yang mudah dipahami oleh pertanyaan yang selalu berpusat pada tujuan dan materi pelajaran, ruang lingkupnya tidak terlalu luas, dan cukup menggambarkan keseluruhan materi pelajaran. Pertanyaan itu harus bermakna. Maksudnya, (1) dapat membangkitkan aktivitas kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya, dan (2) dapat membentuk pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dibutuhkan melalui kegiatan belajar,. Dalam kegiatan belajar dan mengajar pertanyaan yang baik bergantung pada : (1) cara seseorang atau guru bertanya pada para siswanya mengenai hal pelajaran. (2) sikap seseorang guru dalam mengajukan pertanyaan adalah sikap yang edukatif, dan (3) cara member giliran dalam menjawab pertanyaan mengacu pada asas keadilan dan demokrasi.
            Cara seseorang mengajukan pertanyaan, hasil pengalaman menunjukkan bahwa scar seseorang mengajukan pertanyaan itu banyak ragamanya. Caranya ialah ada yang dengan (1) memberikan pengarahan ulang (redirecting), dan (2) ada yang dengan membimbing untuk memberikan jawaban (probing). Pada pertanyaan bentuk pengarahan ulang terdapat proses  pengalihan jawaban dari seseorang terhadap peserta didik lainnya. Maksudnya untuk memperoleh jawaban yang tepat dari peserta didik. Secara diagramatik rusyan (1993 : 69) menggambarkan bahwa guru mengajukan pertanyaan terhadap seseorang atau peserta didik, dan kemudian mengalihkan pertanyaan itu terhadap peserta didik lainnya untuk dikomentari dan diberi penjelasan seperlunya.
            Pada pertanyaa yang bersifat mendidik, maka bagi peserta didik untuk menemukan jawaban ter, dan dapat upaya untuk memberikan pengarahan, namun tidak sambil mengulang (clarification) , dan generalisasi (generalization). Pertanyaan berbentuk isyarat menolong peserta didik agar jawabannya sampai kepada yang diharapkan atau sekurang – kurangnya bisa sampai jawaban yang tidak terlampau menyimpang dari yang sebenarnya. Pertanyaan berbentuk penjelasan dapat berguna untuk para peserta didik dalam memberikan pendapatnya agar lebih jelas daripada yang diungkapkannya, terutama mengenai pengertian – pengertian.
Pertanyaan – pertanyaan bentuk tunggu ini, memerlukan waktu rata – rata 5 detik. Ia berpendapat jika waktu ini secara konsekuen dilaksanakan, akibatnya dapat membina kreativitas peserta didik dalam menemukan jawaban. Kalimat – kalimat yang digunakan lambat laun akan menjadi sempurna, dan peserta didik yang lambatpun akan dapat memberikan jawaban, sehingga anak yang cepat menangkap pertanyaan dan yang lambat mendapat perhatian yang sama. Contoh tiga jenis pertanyaan probing tersebut adalah sebagai berikut :
Pertanyaan probing dalam bentuk isyarat
Guru    : amin, berapa 25 x 25 ?
Amin   : (lama berpikir tidak menjawab). Tidak tahu
Guru    : coba pikirkan 20 x 25 ?
Amin   : (dengan mudah menjawab) 500.
Guru    : berapa 5 x 25 ?
Amin   : 125
Guru    : sekarang, jadi berapa 25 x 25 ?
Amin   : (ia menghitungnya) 500 + 125 = 625
Pertanyaan probing dalam bentuk penjelasan
Guru    : tidak jauh dari sekolah kita akan didirikan pabrik obat. Setujukah kamu semua ?
Beberapa murid menjawab : tidak setuju
Guru    : mengapa tidak setuju, arif ?
Arif     : sebab air yang mengalir disungai kita akan mengandung racun
Guru    : apa yang dimaksud racun itu, arif ?
Dan seterusnya.
            Pertanyaan probing dalam bentuk generalisasi. Guru : ada tiga buah segitiga A, B dan C. ukurlah berapa besar sudutnya, ukurlah besar masing – masing sudut segitiga itu. Kemudian tariklah kesimpulan berapa besar jumlah sudut suatu segitiga. Banyak hal yang kita lakukan dalam mengajukan pertanyaan agar pertanyaan itu dapat dengan mudah dipahami, antara lain dengan diikuti oleh pemantapan yang tinggi yang dapat merangsang peserta didik untuk berfikir.
            Pemantapan itu bisa dilakukan dalam bentuk (1) verbal, yaitu mengucapkan kata – kata yang tidak monoton tetapi beralun disertai dengan tekanan yang menegaskan seperti pada kalimat siapa yang menemukan listrik ?. (2) gestural, yaitu pengucapan pertanyaan yang disertai dengan gerak mimic tertentu tanda emosional, (3) parsial, yaitu bagian – bagian tertentu dalam pertanyaan seperti kapan proklamasi Indonesia di ucapkan ?. siapa yang mengucapkannya?. Diman?. Dalam menjawab pertanyaan itu guru memperlihatkan masa tunggu yang dirasakan oleh Dr rowe itu. Sikap guru bertanya kepada seseorang berbeda sikap guru bertanya kepada kelompok atau kelas. Menurut teori, sikap guru kepada kelas lebih berhasil dalam menelaah jawaban yang diminta karena dorongan untuk menjawabnya lebih besar jika dibandingkan dengan kepada perseorangan.
            Para peserta didik banyak terlibat dalam menentukan jawaban itu. Oleh karena itu pertanyaan sebaiknya di arahkan kepada seluruh kelas walaupun pertanyaan itu memerlukan pertanyaan dari perseorangan atau seorang peserta didik. Sikap lain dalam mengajukan pertanyaan yang perlu dikembangkan ialah sebagai berikut : (1) pertanyaan yang pernah diucapkan jangan  diulang. Pengulangan pertanyaan bisa membuat pertanyaan menjadi kabur, apalagi jika kalimat  yang pertama tidak sama strukturnya dengan kalimat kedua. (2) isi pertanyaan hendaknya berkisar pada pokok bahasan tertentu. Pertanyaan diluar bahasan akan mengaburkan jawaban yang diminta, dan akibatnya akan membuat antipati dari pihak peserta didik, dan (3) selalu menuntun peserta didik dalam menjawab pertanyaan kepada pokok pelajaran. Tidak jarang peserta didik yang menjawab pertanyaan diluar pokok pelajaran. Cara guru memberikan giliran : cara memberikan giliran dalam memberikan menjawab pertanyaan dapat berpengaruh dalam menciptakan kadar jawaban yang diharapkan. Kadar jawaban yang di harapkan : kadar jawaban akan lebih tinggi jika pertanyaan dapat dijawab oleh banyak peserta didik.
            Pertanyaan yang hanya dijawab oleh peserta didik jangan diharapkan jawaban pertanyaan itu lengkap dan memadai. Maksud pertanyaan pada hakikatnya tidak ingin ada jawaban yang tepat. Tetapi juga agar pertanyaan itu dapat menciptakan proses belajar yang baik. Untuk itu maka diperlukan cara memberikan jawaban dengan bergilir. Cara memberikan giliran itu dapat dilakukan sebagai berikut : (1) dengan pertanyaan yang di tujukan kepada seseorang dan gilirannya kepada orang lain, (2) dengan pertanyaan yang diberikan kepada kelompok dan gilirannya kepada kelompok lain, dan (3) dengan pertranyaan yang ditujukan kepada siapapun dan diarahkan secar tersebar. Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada peserta didik atau kelompok tertentu tetapi kepada peserta didik yang bersedia menjawabnya. Semua bersedia menjawabnya akan diberikan giliran secara teratur. Dan (4) dengan pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas dan dijawab secara spontan siapa saja yang menjawab mungkin hanya peserta didik  atau seseorang wakil dan kelas yang bersangkutan. Guru harus memberikan giliran yang lebih adil untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan melalui wakil kelompok itu.
3.      Metode diskusi
            Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsive berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan – pertanyaan probelmatis pemunculan ide – ide dan pengujian ide – ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran. Dalam diskusi selalu adan suatu pokok yang dibicarakan. Dalam percakapan itu diharapkan para pembicara tidak menyimpang dari pokok pembicaraan. Mereka harus selalu senantiasa kembali kepada pokok masalahnya. Pada hakikatnya diskusi berbeda dengan percakapan, situasi lebih santai kadang diselingi dengan humor. Dalam diskusi, semua anggota turut berpikir dan diperlukan disiplin yang ketat.
            Manfaat diskusi antara lain adalah sebagai berikut : (1) peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpikir, (2) peserta didik mendapat pelatihan menegeeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas. (3) peserta didikk belajar bersikap toleran terhadap teman – temannya (4) diskusi dapat menumbuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik (5) diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain, dan (6) dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat. Diskusi selalu dipakai dalam pergaulan sehari – hari, dan karenanya merupakan sebagian dari kehidupan sehari – hari.
            Disamping manfaat menggunakan metode diskusi, tentu terdapat kelemahana – kelemahannya. Adapun kelemahan – kelemahannya itu antara lain adalah sebagai berikut (1) diskusi terlampau menyerap waktu kadang – kadang diskusi larut dengan keasikannya dan dapat mengganggu pelajarn lain (2) pada umumnya peserta didik tidak berlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik. Maka kecenderungannya mereka tidak sanggup berdiskusi, dan (3) kadang – kadang guru tidak memahami cara – cara melaksanakan diskusi. Maka kecenderungannya diskusi menjadi Tanya jawab. Kelemahan ini menunjukkan bersumber dari guru yang kurang menguasai penggunaan dan manfaat metode diskusi dalam membahas materi pelajaran. Kelemahan juga datang dari peserta didik yaitu kurang mampu melaksanakan diskusi dengan baik. Karena terjebak dengan Tanya jawab atau debat kusir, sehingga makna diskusi sebagai suatu teknik untuk memahami materi pelajaran tidak terpenuhi dengan baik.
            Usaha apa yang dapat dilakukan oleh guru supaya diskusi bisa berhasil dengan baik ? antara lain adalah : (1) masalahnya harus controversial, artinya mengandung pertanyaan dari peserta didik. Masalah itu menarik perhatian mereka karena berkaitan erat dengan pengalaman mereka. (2) guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus membagi – bagi pertanyaan dan member petunjuk tentang jalannya diskusi. Guru juga berperan sebagai penangkis terhadap pertanyaan yang diajukan peserta didik peserta didik, dan (3) guru hendaknya memperhatikan pembicaraan agar fungsi guru sebagai pemimpin diskusi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
            Beberapa jenis diskusi yang lazim dilakukan yaitu : (1) diskusi panel. Diskusi ini hanya dilakukan oleh beberapa orang yang terpilih sebagai wakil orang banyak. Mereka adalah pakar dibidangnya masing – masing dan memiliki wawasan yang berbeda. Diskusi terjadi diantara diskusi panel. Jika diskusi melibatkan peserta didik lainnya, maka diskusi itu disebut forum; (2)  
           
TERIMA KASIH SUDAH MAU BERKUNJUNG !!

Selasa, 25 Oktober 2016

TIPS PERCAYA DIRI TAMPIL DIDEPAN UMUM




Guys,, kali ini ane mau posting artikel yang tentunya pas banget buat loe2 semua yang punya masalah kurang percaya diri tiap loe tampil didepan umum,,
gak usah banyak omong
Loe simak baik2,, 
terus loe coba praktekin,,

SUKSES buat loe semua!!

1.     Lemparkan senyuman
Hal pertama yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi rasa gugup dan tidak percaya diri adalah dengan cara melemparkan senyuman ke orang-orang di hadapan Anda. Senyum tidak hanya dilakukan apabila ada hal yang lucu maupun yang membuat Anda merasa senang, lebih dari itu, sebuah senyuman yang tulus juga dapat membuat diri Anda merasa jauh lebih baik karena dapat menimbulkan perasaan positif.
2.     Kontak mata lawan bicara
Berikan tatapan yang menyapu ruangan sambil sekali-sekali Anda menatap mata semua orang yang ada ditempat tersebut sambil tersenyum. Senyuman balasan dari orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri di dalam diri Anda dengan cepat. Cara ini juga berlaku saat wawancara kerja. Jangan menundukkan kepala saat berbicara ataupun menatap dengan tatapan yang kosong.
Kontak mata dengan lawan bicara akan segera menghilangkan rasa takut dan mengusir rasa tidak percaya diri Anda. Dengan kontak mata, Anda akan terbebas dari rasa intimidasi maupun rasa stres yang datang seketika pada saat Anda berbicara di depan publik.
3.     Berpikir positi
Kendalikan diri Anda dan berpikirlah positif serta katakan dalam diri Anda jika semuanya pasti bisa dilalui dengan baik, bahkan badai sekalipun. Jadi buanglah rasa takut dan suara-suara negatif yang mungkin ada dalam diri Anda kemudian gantikan dengan kalimat yang positif seperti, "ini sangat mudah", "saya pasti bisa" dan sebagainya kemudian gantikan rasa takut tadi dengan rasa percaya diri.
4.     Jadi diri sendiri
Untuk menjadi hebat, Anda tak perlu menjadi orang lain yang bukan diri Anda sendiri. Setiap orang adalah pribadi yang unik dan berbeda. Menjadi berbeda itulah nilai plus Anda. Jadilah diri sendiri yang tampil apa adanya, tanpa dibuat-buat atau berpura-pura namun tetap terkonsep dengan baik.
5.     Tampil rapi
Sebelum Anda tampil didepan umum, cobalah untuk menyempatkan waktu pergi ke toilet untuk memastikan diri Anda tampil lebih fresh dan rapi. Rapikan setelan baju Anda, rambut, sepatu dan lain sebagainya. Penampilan yang rapi terbukti mampu membangkitkan rasa percaya diri dengan cepat.
6.     Awali dengan salam dan doa
Awalilah segala sesuatu dengan doa dan salam, termasuk pada saat Anda diharuskan untuk tampil didepan umum. Berdoa merupakan tindakan yang positif yang bisa membantu Anda untuk melalui segala masalah, bahkan di saat situasi tersulit sekalipun.
7.     Bicara dengan suara jelas dan terstruktur
Bicaralah dengan suara yang jelas dan terstruktur. Saat seseorang mampu berbicara dengan lantang dan jelas didepan umum, sesungguhnya ia mendengarkan "suara" yang ada dikepala terlebih dahulu baru kemudian menyampaikannya lewat mulut. Dengan demikian maka penyampaian ide, topik pembicaraan maupun pembahasan akan tersusun dengan sistematis dan terstruktur dengan sendirinya. Coba bayangkan apabila Anda berbicara dahulu baru kemudian berpikir, apa yang kira-kira akan terjadi?.
8.     Jangan takut berbuat kesalahan
Kesalahan merupakan hal yang lazim dialami setiap manusia. Tak ada manusia yang sempurna yang benar-benar luput dari kesalahan. Saat Anda tampil didepan umum, cobalah untuk meminimalisir membuat kesalahan. Namun saat terjadi sebuah kesalahan, tetap kendalikan diri Anda dan segeralah meralatnya, kemudian alihkan topik dan jangan berfokus pada kesalahan yang barusan Anda buat.
9.     Atur nafas
Seringkali orang yang gugup berbicara dengan intonasi suara yang bergetar, naik turun dan kurang jelas. Nah, untuk mengantisipasi hal ini, cobalah untuk mengatur nafas Anda. Jangan berbicara dengan kalimat yang terlalu panjang karena akan menghabiskan nafas Anda. Aturlah nafas dan bicaralah dengan perlahan namun jelas. Potong-potonglah kalimat yang akan diutarakan dengan penggalan-penggalan kalimat yang masih dapat dicerna dan dimaknai oleh audience yang ada di depan Anda.


 ref.
http://www.berjibaku.com/2014/10/tips-membangun-rasa-percaya-diri-saat.html

10 Macam Puasa Sunnah Beserta Keutamaanny



Allah Ta’ala telah berfirman :

''Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng (dari api neraka), maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang shaum’. Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya: Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu''. (HR. Al-Bukhari no. 1771 dan Muslim no. 1151)

Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu :

1. Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).

2. Puasa Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adalah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.

3. Puasa Hari Arofah
Yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.

4. Puasa Muharrom
Yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)

5. Puasa Assyuro’
Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).

6. Puasa Sya’ban
Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).

7. Puasa pada Bulan Harom (bulan yang dihormati)
Yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.

8. Puasa Senin dan Kamis
Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.

9. Puasa 3 Hari Setiap Bulan
Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.

10. Puasa Dawud
Yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Kemudian puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

Ketentuan dalam Melakukan Puasa Sunnah
Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154). An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”
Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah diatas. Puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.[10]
Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.” (HR. Bukhari no. 5192 dan Muslim no. 1026)
An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[11] Beliaurahimahullah menjelaskan pula, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya

Semoga bermanfaat kawan ...

Selasa, 29 September 2015

MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN DISEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapaitujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar melakukan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.
Oleh karena itu, Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan media ke dalam rencana pembelajaran meliputi tujuan, materi, strategi, dan juga waktu yang tersedia. Hal itu pula yang menjadikan berat tugas guru dalam menglola kelas dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas,tujan pengajaran pun sukar untuk dicapai.
Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah dengan meminimalkan jumlah anak didik di kelas. Meaplakasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas. Kelas adalah upaya lain yang tidak bisa diabaikkan begitu saja. Pendekatan terpilih mutlak dilakukan guna mendukung pengelolaan kelas. Disamping itu juga, perlu memanfatkan beberapa media pendidikan yang telah ada dan mengupayakan pengadaan media pendidikan baru demi terwujudnya tujuan bersama



B.     Rumusan Masalah

a.       Apa yang anda ketahui tentang pengertian Pemanfaatan Media Pembelajaran ?
b.      Apa yang anda ketahui tentang Pemanfaatan Perpustaan Sebagai Sumber
Belajar ?
c.       Apa yang anda ketahui tentang Pusat Sumber Belajar ( PSB ) dan Program Pendidikan Jarak Jauh ?
                                                                                                               
C.    Tujuan Masalah

a.       Untuk mengetahui tentang pengertian pemanfaatan media Pembelajaran
b.      Untuk mengetahui tentang Pemanfaatan Perpustaan Sebagai Sumber Belajar.
c.       Untuk mengetahui tentang Pusat Sumber Belajar ( PSB ) dan Program Pendidikan Jarak Jauh.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pemanfaatan Media Pelajaran di Sekolah

Arief S. sadiman (1990:189) membagi pemanfaatan media pembelajaran pada dua pola, yakni pemanfaatan media dalam situasi belajar mengajar di dalam kelas atau ruang (seperti auditorium) dan pemanfaatan media diluar kelas. Dalam konteks pemanfaatannya di dalam kelas, kehadirannya di maksudkan untuk menunujang tercapainya tujuan tertentu.
Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan media kedalam rencana pembelajran meliputi tujuan, materi, strategi, dan juga waktu yang tersedia. Ada beberapa langkah yang perluu di perhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran di kelas ini, yakni :
Pertama, persiapan guru : pada langkah ini guru menetapkan tujuan yang akan di capai melalui media pembelajaran sehubungan dengan pelajaran (materi) yang akan di jelaskan berikut dengan strategi-strategi penyampaiannya.
Kedua, persiapan kelas : pada langkah ini bukan hanya menyiapkan perlengkapan, tetapi juga mempersiapkan siswa dari sisi tugas, misalnya agar dapat mengikuti, mencatat, menganalisis, mengkritik, dan lain-lain.
Ketiga, penyajian : penyajian media pembelajaran sesuai dengan karakteristik.
Ke empat, langkah lanjutindan aplikasi : sesudah penyajianperlu ada kegiatan belajar sebagai tindak lanjutnya, masalah diskusi, laporan, dan tugas lain.
Pola pemanfaatan kedua, adalah pemanfaatan media pembelajaran di luar kelas. Pola kedua ini memperkuat posisi media sebagai sumber belajar. Pola pemanfaatan media di luar kelas menurut Arief S.Sadiman (1990:190-197) dapat di bedakan dalam tiga kelompok, yakni yang terkontrol, tidak terkontrol (bebas), dan jumlah sasaraannya.
Pertama, pemanfaatan media secara terkontrol, yakni media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu, seperti pemanfaatannya di dalam kelas dan pada program pendidikan jarak jauh. Hasil belajar melalui pemanfaatan media secara terkontrol ini biasanya dievaluasi secara teratur dengan alat evaluasi yang teratur.
Kedua, pemanfaatan media secara bebas (tidak terkontrol), yakni pemanfaatannya tanpa ada control ayau pengawasan, seperti media-media yang di manfaatkan masyarakat secara luas dengan cara membeli. masyarakat itu sendirilah yang menentukan tujuan pemanfaatnnya, yakni dengan menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing, seperti pemanfaatan kaset pelajaran bahasa inggris, video interaktif tentang belajar membaca al-qur’an dan lain-lain.
ketiga, pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunaanya, yakni secara perorangan, kelompok dan missal. pemanfaatan media secara perorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaanya, sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara mandiri, secara modul. pemanfaatan media secara kelompok kecil (2 s/d 8 orang) maupun kelompok besar (9 s/d 40 orang). media untuk kelompok ini biasanya di lengkapi buku petunjuk bagi pimpinan kelompoknya. setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat melakukan diskusi. terakhir, media yang di manfaatkan secara missal ( mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). media untuk missal ini biasanya di salurkan melaui pemancar, seperti radio dan televisi.  sebelum memanfaatkan  media ini, peserta di beri bahan tercetak yang memuat tujuan pembelajaran, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan dari sumber lain untuk pendalaman pemahaman.

B.     Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar   

Bagi banyak bila mendengar istilah perpustakaan, dalam bentuk mereka akan tergambar sebuah gedung atau ruangan yang di penuhi rak buku. Anggapan demikian tidaklah salah, karena bila di lihat dari arti kata dasarnya, perpustakaan adalah pustaka.
Dalam Kamus Umum Bahasa Iindonesia, pustaka artinya kitab, buku. dalam bahasa inggris, perpustakan di sebut library. istilah ini berasal dari kata latin, liber atau libri artinya buku. dari kata latin tersebut, terbentuklah istilah librarius yang artinay tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya seperti belanda perpustakaan di sebut juga sebagai bibliotheek, jerman: bibliothek, prancis: bibliotheque, spanyol: bibliotheca, dan po
portugis: bibliotheca. semua istilah itu berasal dari satu kata yang sama yakni biblia dari bahasa yunani, artinya tentang buku, kitab. istilah tersebut bahkan di pakai sebagai sebutan kitab suci, bible. oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia bible di terjemahkan menjadi alkitab.
            Dalam bahasa arab, perpustakaan di sebut kutubkhanah atau al-makhtabah yang di artikan sebagai dar al-kutub yang semuanya berasal dari kata yang sama yakni kataba, yaktubu katban, kitaban, kitabatan, yang artinya tentang tulisan dan atau tentang kitab, buku.
            Dengan demikian, tidaklah aneh dalam semua bahasa, istilah-istilah untuk perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau kitab. pada abad permulaan islam, semua muslim, dengan tidak membedakan siapa dia dan dari mana dia, telah menunjukan penghormatan yang besar kepada cendikiawan dan terhadap karya-karya ilmu pengetahuan atau masterpiece mereka. kesetiaan kepada buku-buku terkenal, nyaris sama dengan kesetiaannya terhadap relegiusitasnya. berkenan dengan hal ini, al jahiz (Syalabi 1973) memberikan ilustrasi yang menarik, sebagai berikut.
“ Buku akan diam, selama anda membutuhkan kesunyian dan keheningan, akan fasih berbicara kapanpun anda menginginkan wacana. ia tidak menyela anda jika anda sedang berbicara, tetapi jika anda merasa kesepian maka ia akan menjadi sekutu yang baik. ia adalah teman yang tidak pernah mencurangi atau memuji  
Sehingga pada masa itu tidak mengherankan bahwa dengan sikap takzim kepada buku-buku tersebut, maka perpustakaan-perpustakaan muslim menjadi puset ilmu pengetahuan di manapun ia didirikan. Perhatian mereka tidak hanya sebatas pada pendirian perpustakaan dan pengadaan buku saja, melainkan juga pada fasilitas-fasilitas perpustakaan yang dapat mendukung suasana belajar yang kondusi. Dalam hal ini Pinto (Nakosteen, 1995) menggambarkan fasilitas-fasilitas sebuah perpustakaan abad pengetahuan, sama dengan yang ada shiraz, cordova, dan kairo, yakni :

…. banyak ruangan-ruangan untuk kegunaan yang berbeda : galeri dengan rak-rak tempat penyimpan buku-buku, ruangan tempat pengunjung dapat membaca dan belajar, ruangan yang di atur berpisahan itu pembuatan salinan dari manuskrip-manuskrip, yang ruangan-ruangan yang disediakan untuk pertemuan-pertemuan sastra dan bahkan dalam beberapa hal ruangan-ruangan di pergunakan untuk pertunjukan msuik. semua ruangan di buat sedemikain mewah dan menyenangkan….
Kutipan di atas menggambarkan bahwa perpustakaan pada masa keemasan islam telah benar-benar berfungsi sebagai pusat sumber belajar, karena banyak aktifitas belajar didalamnya, seperti membaca, menulis, menyalin, pertemuan sastra, pertunjukan music. Ahmad syalabi juga dalam history of muslim education memaparkan bahwa penerjermahan-penerjemahan pada masa al-ma’mun lebih banyak dilakukan di baitul hikmah, yaitu sebuah perpustakaan terbesar saat itu. di samping kegiatan penerjemahan khususnya karya-karya yunani ada juga kegiatan penelitiannya, di perputakaan ini terdapat sebuah observatory astronomi.
Namun kemudian, pada abad-abad berikutnya suasana perpustakaan berubah, yakni menjadi sunyi senyap walaupun di dalamnya penuh dengan pengunjung. keadaan ini disinyalir terjadi pada pacsa lahirnya mesin cetak yang tercipta dari tangan terampil Johannes Guttenberg pada 1440-an. karena setelah mesin cetak di gunakan secara luas maka orang-orang menjadi melek informasi dan pengetahuan, dari melalui lisan menjadi melalui membaca. Epos, mitos, dongeng dan lain-lain yang awalnya di sampaikan dengan kekayaan suara yang begitu dramatis dan emosional yang memberikan kesan dalam kenangan, berubah menjadi kumpulan ribuan huruf. perubahan ini artinya perubahan tradisi belajar dari belajar dinamis menjadi belajar statis. bahkan hingga saat ini, kita merasa abersalah kalau kita mengeluarkan kata-kata apalagi diskusi di dalam perpustakaan, dan bila itu di lakukan maka berpuluh atau ratus mata tertuju pada kita.

Dengan melakukan perkembangan dan produksi sebagai macam media pembelajaran, maka di perpustakaan-perpustakaan modern ini tidak hanya menyediakan  koleksi buku saja, melainkan juga mencakup film, slide, rekaman phonograps, kaset, piringan hitam, microfiche,  micro-apuque, dan lain-lain. perpustakaan yang demikian itu adalah perpustakaan yang kaya akan sumber belajar. para pengguna perpustakaan tidak hanya memanfaatkan satu macam sumber saja, buku, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar lainnya.

C.    Pusat Sumber Belajar Dan Pendidikan Program Jarak Jauh.

Setelah di singgung pada adab II bahwa sumber belajar apada hakikatnya merupakan komponen system intruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan, yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian sumber belajar dapat di pahami dapat segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar. untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut adalah sebagai sumber belajar yang cocock, sumber tersebut harus memenuhi persyaratn sebagi berikut.
§  Harus dapat tersedia dengan cepat
§  Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri
§  Harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.
Berdasarkan pada persyaratan tersebut, maka sebuah sumber belajar harus berorientasi pada siswa secara individual yang berbeda dengan sumber belajar yang tradisional, yaitu suatu sumber belajar yang di buat berdasarkan pada pendekatan yang berorientasi pada guru / lembaga pendidikan.
Dalam pendekatan seperti ini melibatkan mengajar seperti, metode eksposisi,ceramah, kerja laboratorium secara klasikal dan buku teks. dari sekian banyak sumber belajar yang di gunakan dalam pendekatan yang tradisional hanya buku teks saja yang memenuhi kreteria sebagai sumber belajar. walaupun begitu dalam proses belajar, ceramah dapat dibuat agar lebih menyerupai sumber belajar dengan cara menyatukan dalam bentuk paket belajar di mana ceramah yang terprogram merupakan salah satu unsur dan paket tersebut. misalnya dengan merekam kuliah-kuliah pada kaset atau dalam bentuk rekaman audiovisual lainnya. hal yang sama, situasi laboratorium dapat di  jadiakan sumber belajar dengan cara fleksibel, yaitu mengijinkan siswa untuk menggunakan berbagai fasilitas laboratorium yang ada secara leluasa tanpa di batasi oleh waktunya dan jumlahnya.
Sumber-sumber belajar dapat berasal dari berbagai bentuk. misalnya orang juga bisa menjadi sumber belajar, yakni ketika staf pengajar tersebut menyediakan diri sebagai manusia sumber yang dapat tersedia setiap saat sehingga dapat memecahkan berbagai kesuliatan siswa secara individual. begitu juga tempat tertentu dapat dijadikan sumber belajar contohnya adalah laboratorium yang bisa di gunakan setiap saat seperti yang di uraikan sebelumnya. akhirnya, berbagai bentuk media intruksional dapat di artikan sebagai sumber belajar, misalnya buku, catatan terstruktur, kaset video berbagai program slide-tape, computer dan lain-lain.
Media intruksional dalam berbagai formatnya merupakan tipe sumber belajar yang paling umum, dan media ini sering di simpan menjadi satu di pusat sumber belajar dalam suatu tatanan yang khusus. secara historis menurut mudhofir (1992) , pertumbuhan pusat sumber belajar merupakan suatu kemajuan bertahap  di mulai dari perpustakaan yang hanya terdiri dari media cetak. dalam melaksanakan kegiatannya perpustakaan menanggapi permintaan-permintaan dan memberikan pelayanan kepada para konsumen yang bervariasi secara luas.
Dengan demikian meluasnya kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin di perlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pada bahan pengajaran yang baru melalui produksi audiovisual di gabung dengan perpustakaan yang melayani media cetak, maka timbul pusat multimedia.
Timbul pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar nontradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Pusat sumber belajar (learning resources centres) sendiri oleh Irving R. Merill and Harold A Drob (1977) di definisikan sebagai : “ an organized consisiting of director, staff and equipment housed in one or more specialized facilities for production, procurement and presentation of instructional materials and profision of developmental and planning services related to the curriculum and teacing on a general university, campus “. pusat sumber belajar oleh fred pervical & henry ellingtong (1988 : 126) di sebut juga sebagai laboratorium alat bantu belajar yang berfungsi melayani berbagai kebutuhan individual suatu fakultas, sekolah atau akademi.
Dengan demilian, tujuan umum pusat sumber belajar adalah “ meningkatkan efektivitas dan efesien kegiatan PBM melalui pengembangan system intruksional “. Segala sumber dan bahan, segala macam peralatan audiovisual, segala jenis personel yang ada di dalam pusat sumber belajar di maksudkan untruk membantu meningkatkan efektivitas dan efesiensi interaksi siswa pengajar dalam proses pembelajaran.
Adapun tujuan khususnya adalah sebagai berikut :
1.      menyediakan pilihan komunikasi pembelajaran.
2.      mendorong penggunaa cara-cara belajar baru.
3.      memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lamjut.
4.      penelitian tentang pemanfaatan media pembelajaran.
5.      menyebarkan informasi tentang berbagai sumber belajar.
6.      memberikan konsultasi untuk modefikasi dan desain produksi sumber belajar
7.      layanan pemeliharaan atas berbagai peralatan.
8.      menyediakan pelayanan evaluasi.

Pusat sumber belajar di manfaatkan di berbagai tingkat pendidikan melalui cara yang secara mendasar berbeda, dan cara penggunaanya tergantung pada keputusan tentang luas atau tingginya tingkat dan sifat strategi pendekatan intruksional yang dipakai.
Pusat sumber belajar dapat mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan sumber belajar umtuk para siswa dalam berbagai bentuk dan jenisnya, lengkap dengan perangkat kerasnya yang sesuai di perlukan untuk penggunaan sumber belajar tersebut. Dengan system belajar yang begitu luwes para siswa sering memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan sumber belajar secara bebas dan mudah yang ada pada pusat sumber belajar di lembaga pendidikan induk. Mereka diizinkan untuk hadir pada waktu kapan saja yang sesuai dengn kesempatan waktu mereka.
Bahkan saat ini keberadaan pusat sumber belajar telah di jadikan syarat bagi perguruan tinggi yang ingin menjadi penyelenggara program pendidikan jarak jauh.
            Zainal A. hasibuan dari fakultas ilmu computer universitas Indonesia dalam makalahnya yang di sampaikan dalam “seminar pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidkan jarak jauh dalam rangka peningkatan mutu pemebalajaran“
pada 12 Desember 2006 di Jakarta menyampaikan beberapa garis besra SK Mendiknas No. 107/U/2001 untuk pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ) sebagai berikut :
Ø  PTJJ di selenggarakan perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan
Ø  untuk menjaga kualitas pendidikan persyaratan yang harus di penuhi antara lain :
§  mempunyai sumber daya manusia dan fasilitas produksi yang mampu mengembangkan materi belajar mandiri untuk di sebar luaskan kepada peserta didik.
§  mempunyai kemampuan memutakhirkan bahan ajar setiap tahun sesuai perkembangan global.
§  memiliki pusat sumber belajar yang di kelola secara penuh waktu.
Ø  perguruan tinggi bersangkutan juga harus mempunyai sumber daya umtuk melakukan evaluasi hasil belajar secara terprogram.
Ø  mempunyai izin pelenggaraan program studi secara tahap muka dalam bidang studi yang sama dan telah terakreditasi oleh badan akreditasi nasional perguruan tinggi (BAN-PT) dengan nilai A atau U (unggulan).
Kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia sebenarnya telah lama di laksanakan  dan di kembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. seiring denagn perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di masyarakat, secara langsung dan tidak langsung telah mempengaruhi perkembangan pendidikan jarak jauh, baik dari sisi proses pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran.















BAB III
PEUTUP

Kesimpulan
pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunaanya, yakni secara perorangan, kelompok dan missal. pemanfaatan media secara perorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaanya, sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara mandiri, secara modul. pemanfaatan media secara kelompok kecil (2 s/d 8 orang) maupun kelompok besar (9 s/d 40 orang). media untuk kelompok ini biasanya di lengkapi buku petunjuk bagi pimpinan kelompoknya. setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat melakukan diskusi. terakhir, media yang di manfaatkan secara missal ( mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). media untuk missal ini biasanya di salurkan melaui pemancar, seperti radio dan televisi.  sebelum memanfaatkan  media ini, peserta di beri bahan tercetak yang memuat tujuan pembelajaran, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan dari sumber lain untuk pendalaman pemahaman.
Dengan demikian meluasnya kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin di perlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pada bahan pengajaran yang baru melalui produksi audiovisual di gabung dengan perpustakaan yang melayani media cetak, maka timbul pusat multimedia.






DAFTAR PUSTAKA

Munadi,yudhi. (2010). “ Media Pembelajaran “: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta:
PT Gaung Persada Press.



Biografi Ir Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) ia merupakan  Presiden In...