Selasa, 29 September 2015

MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN DISEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapaitujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar melakukan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.
Oleh karena itu, Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan media ke dalam rencana pembelajaran meliputi tujuan, materi, strategi, dan juga waktu yang tersedia. Hal itu pula yang menjadikan berat tugas guru dalam menglola kelas dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas,tujan pengajaran pun sukar untuk dicapai.
Hal ini kiranya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar. Salah satu caranya adalah dengan meminimalkan jumlah anak didik di kelas. Meaplakasikan beberapa prinsip pengelolaan kelas. Kelas adalah upaya lain yang tidak bisa diabaikkan begitu saja. Pendekatan terpilih mutlak dilakukan guna mendukung pengelolaan kelas. Disamping itu juga, perlu memanfatkan beberapa media pendidikan yang telah ada dan mengupayakan pengadaan media pendidikan baru demi terwujudnya tujuan bersama



B.     Rumusan Masalah

a.       Apa yang anda ketahui tentang pengertian Pemanfaatan Media Pembelajaran ?
b.      Apa yang anda ketahui tentang Pemanfaatan Perpustaan Sebagai Sumber
Belajar ?
c.       Apa yang anda ketahui tentang Pusat Sumber Belajar ( PSB ) dan Program Pendidikan Jarak Jauh ?
                                                                                                               
C.    Tujuan Masalah

a.       Untuk mengetahui tentang pengertian pemanfaatan media Pembelajaran
b.      Untuk mengetahui tentang Pemanfaatan Perpustaan Sebagai Sumber Belajar.
c.       Untuk mengetahui tentang Pusat Sumber Belajar ( PSB ) dan Program Pendidikan Jarak Jauh.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pemanfaatan Media Pelajaran di Sekolah

Arief S. sadiman (1990:189) membagi pemanfaatan media pembelajaran pada dua pola, yakni pemanfaatan media dalam situasi belajar mengajar di dalam kelas atau ruang (seperti auditorium) dan pemanfaatan media diluar kelas. Dalam konteks pemanfaatannya di dalam kelas, kehadirannya di maksudkan untuk menunujang tercapainya tujuan tertentu.
Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan media kedalam rencana pembelajran meliputi tujuan, materi, strategi, dan juga waktu yang tersedia. Ada beberapa langkah yang perluu di perhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran di kelas ini, yakni :
Pertama, persiapan guru : pada langkah ini guru menetapkan tujuan yang akan di capai melalui media pembelajaran sehubungan dengan pelajaran (materi) yang akan di jelaskan berikut dengan strategi-strategi penyampaiannya.
Kedua, persiapan kelas : pada langkah ini bukan hanya menyiapkan perlengkapan, tetapi juga mempersiapkan siswa dari sisi tugas, misalnya agar dapat mengikuti, mencatat, menganalisis, mengkritik, dan lain-lain.
Ketiga, penyajian : penyajian media pembelajaran sesuai dengan karakteristik.
Ke empat, langkah lanjutindan aplikasi : sesudah penyajianperlu ada kegiatan belajar sebagai tindak lanjutnya, masalah diskusi, laporan, dan tugas lain.
Pola pemanfaatan kedua, adalah pemanfaatan media pembelajaran di luar kelas. Pola kedua ini memperkuat posisi media sebagai sumber belajar. Pola pemanfaatan media di luar kelas menurut Arief S.Sadiman (1990:190-197) dapat di bedakan dalam tiga kelompok, yakni yang terkontrol, tidak terkontrol (bebas), dan jumlah sasaraannya.
Pertama, pemanfaatan media secara terkontrol, yakni media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu, seperti pemanfaatannya di dalam kelas dan pada program pendidikan jarak jauh. Hasil belajar melalui pemanfaatan media secara terkontrol ini biasanya dievaluasi secara teratur dengan alat evaluasi yang teratur.
Kedua, pemanfaatan media secara bebas (tidak terkontrol), yakni pemanfaatannya tanpa ada control ayau pengawasan, seperti media-media yang di manfaatkan masyarakat secara luas dengan cara membeli. masyarakat itu sendirilah yang menentukan tujuan pemanfaatnnya, yakni dengan menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing, seperti pemanfaatan kaset pelajaran bahasa inggris, video interaktif tentang belajar membaca al-qur’an dan lain-lain.
ketiga, pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunaanya, yakni secara perorangan, kelompok dan missal. pemanfaatan media secara perorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaanya, sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara mandiri, secara modul. pemanfaatan media secara kelompok kecil (2 s/d 8 orang) maupun kelompok besar (9 s/d 40 orang). media untuk kelompok ini biasanya di lengkapi buku petunjuk bagi pimpinan kelompoknya. setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat melakukan diskusi. terakhir, media yang di manfaatkan secara missal ( mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). media untuk missal ini biasanya di salurkan melaui pemancar, seperti radio dan televisi.  sebelum memanfaatkan  media ini, peserta di beri bahan tercetak yang memuat tujuan pembelajaran, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan dari sumber lain untuk pendalaman pemahaman.

B.     Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar   

Bagi banyak bila mendengar istilah perpustakaan, dalam bentuk mereka akan tergambar sebuah gedung atau ruangan yang di penuhi rak buku. Anggapan demikian tidaklah salah, karena bila di lihat dari arti kata dasarnya, perpustakaan adalah pustaka.
Dalam Kamus Umum Bahasa Iindonesia, pustaka artinya kitab, buku. dalam bahasa inggris, perpustakan di sebut library. istilah ini berasal dari kata latin, liber atau libri artinya buku. dari kata latin tersebut, terbentuklah istilah librarius yang artinay tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya seperti belanda perpustakaan di sebut juga sebagai bibliotheek, jerman: bibliothek, prancis: bibliotheque, spanyol: bibliotheca, dan po
portugis: bibliotheca. semua istilah itu berasal dari satu kata yang sama yakni biblia dari bahasa yunani, artinya tentang buku, kitab. istilah tersebut bahkan di pakai sebagai sebutan kitab suci, bible. oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia bible di terjemahkan menjadi alkitab.
            Dalam bahasa arab, perpustakaan di sebut kutubkhanah atau al-makhtabah yang di artikan sebagai dar al-kutub yang semuanya berasal dari kata yang sama yakni kataba, yaktubu katban, kitaban, kitabatan, yang artinya tentang tulisan dan atau tentang kitab, buku.
            Dengan demikian, tidaklah aneh dalam semua bahasa, istilah-istilah untuk perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau kitab. pada abad permulaan islam, semua muslim, dengan tidak membedakan siapa dia dan dari mana dia, telah menunjukan penghormatan yang besar kepada cendikiawan dan terhadap karya-karya ilmu pengetahuan atau masterpiece mereka. kesetiaan kepada buku-buku terkenal, nyaris sama dengan kesetiaannya terhadap relegiusitasnya. berkenan dengan hal ini, al jahiz (Syalabi 1973) memberikan ilustrasi yang menarik, sebagai berikut.
“ Buku akan diam, selama anda membutuhkan kesunyian dan keheningan, akan fasih berbicara kapanpun anda menginginkan wacana. ia tidak menyela anda jika anda sedang berbicara, tetapi jika anda merasa kesepian maka ia akan menjadi sekutu yang baik. ia adalah teman yang tidak pernah mencurangi atau memuji  
Sehingga pada masa itu tidak mengherankan bahwa dengan sikap takzim kepada buku-buku tersebut, maka perpustakaan-perpustakaan muslim menjadi puset ilmu pengetahuan di manapun ia didirikan. Perhatian mereka tidak hanya sebatas pada pendirian perpustakaan dan pengadaan buku saja, melainkan juga pada fasilitas-fasilitas perpustakaan yang dapat mendukung suasana belajar yang kondusi. Dalam hal ini Pinto (Nakosteen, 1995) menggambarkan fasilitas-fasilitas sebuah perpustakaan abad pengetahuan, sama dengan yang ada shiraz, cordova, dan kairo, yakni :

…. banyak ruangan-ruangan untuk kegunaan yang berbeda : galeri dengan rak-rak tempat penyimpan buku-buku, ruangan tempat pengunjung dapat membaca dan belajar, ruangan yang di atur berpisahan itu pembuatan salinan dari manuskrip-manuskrip, yang ruangan-ruangan yang disediakan untuk pertemuan-pertemuan sastra dan bahkan dalam beberapa hal ruangan-ruangan di pergunakan untuk pertunjukan msuik. semua ruangan di buat sedemikain mewah dan menyenangkan….
Kutipan di atas menggambarkan bahwa perpustakaan pada masa keemasan islam telah benar-benar berfungsi sebagai pusat sumber belajar, karena banyak aktifitas belajar didalamnya, seperti membaca, menulis, menyalin, pertemuan sastra, pertunjukan music. Ahmad syalabi juga dalam history of muslim education memaparkan bahwa penerjermahan-penerjemahan pada masa al-ma’mun lebih banyak dilakukan di baitul hikmah, yaitu sebuah perpustakaan terbesar saat itu. di samping kegiatan penerjemahan khususnya karya-karya yunani ada juga kegiatan penelitiannya, di perputakaan ini terdapat sebuah observatory astronomi.
Namun kemudian, pada abad-abad berikutnya suasana perpustakaan berubah, yakni menjadi sunyi senyap walaupun di dalamnya penuh dengan pengunjung. keadaan ini disinyalir terjadi pada pacsa lahirnya mesin cetak yang tercipta dari tangan terampil Johannes Guttenberg pada 1440-an. karena setelah mesin cetak di gunakan secara luas maka orang-orang menjadi melek informasi dan pengetahuan, dari melalui lisan menjadi melalui membaca. Epos, mitos, dongeng dan lain-lain yang awalnya di sampaikan dengan kekayaan suara yang begitu dramatis dan emosional yang memberikan kesan dalam kenangan, berubah menjadi kumpulan ribuan huruf. perubahan ini artinya perubahan tradisi belajar dari belajar dinamis menjadi belajar statis. bahkan hingga saat ini, kita merasa abersalah kalau kita mengeluarkan kata-kata apalagi diskusi di dalam perpustakaan, dan bila itu di lakukan maka berpuluh atau ratus mata tertuju pada kita.

Dengan melakukan perkembangan dan produksi sebagai macam media pembelajaran, maka di perpustakaan-perpustakaan modern ini tidak hanya menyediakan  koleksi buku saja, melainkan juga mencakup film, slide, rekaman phonograps, kaset, piringan hitam, microfiche,  micro-apuque, dan lain-lain. perpustakaan yang demikian itu adalah perpustakaan yang kaya akan sumber belajar. para pengguna perpustakaan tidak hanya memanfaatkan satu macam sumber saja, buku, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar lainnya.

C.    Pusat Sumber Belajar Dan Pendidikan Program Jarak Jauh.

Setelah di singgung pada adab II bahwa sumber belajar apada hakikatnya merupakan komponen system intruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan, yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian sumber belajar dapat di pahami dapat segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar. untuk menjamin bahwa sumber belajar tersebut adalah sebagai sumber belajar yang cocock, sumber tersebut harus memenuhi persyaratn sebagi berikut.
§  Harus dapat tersedia dengan cepat
§  Harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri
§  Harus bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan para siswa dalam belajar mandiri.
Berdasarkan pada persyaratan tersebut, maka sebuah sumber belajar harus berorientasi pada siswa secara individual yang berbeda dengan sumber belajar yang tradisional, yaitu suatu sumber belajar yang di buat berdasarkan pada pendekatan yang berorientasi pada guru / lembaga pendidikan.
Dalam pendekatan seperti ini melibatkan mengajar seperti, metode eksposisi,ceramah, kerja laboratorium secara klasikal dan buku teks. dari sekian banyak sumber belajar yang di gunakan dalam pendekatan yang tradisional hanya buku teks saja yang memenuhi kreteria sebagai sumber belajar. walaupun begitu dalam proses belajar, ceramah dapat dibuat agar lebih menyerupai sumber belajar dengan cara menyatukan dalam bentuk paket belajar di mana ceramah yang terprogram merupakan salah satu unsur dan paket tersebut. misalnya dengan merekam kuliah-kuliah pada kaset atau dalam bentuk rekaman audiovisual lainnya. hal yang sama, situasi laboratorium dapat di  jadiakan sumber belajar dengan cara fleksibel, yaitu mengijinkan siswa untuk menggunakan berbagai fasilitas laboratorium yang ada secara leluasa tanpa di batasi oleh waktunya dan jumlahnya.
Sumber-sumber belajar dapat berasal dari berbagai bentuk. misalnya orang juga bisa menjadi sumber belajar, yakni ketika staf pengajar tersebut menyediakan diri sebagai manusia sumber yang dapat tersedia setiap saat sehingga dapat memecahkan berbagai kesuliatan siswa secara individual. begitu juga tempat tertentu dapat dijadikan sumber belajar contohnya adalah laboratorium yang bisa di gunakan setiap saat seperti yang di uraikan sebelumnya. akhirnya, berbagai bentuk media intruksional dapat di artikan sebagai sumber belajar, misalnya buku, catatan terstruktur, kaset video berbagai program slide-tape, computer dan lain-lain.
Media intruksional dalam berbagai formatnya merupakan tipe sumber belajar yang paling umum, dan media ini sering di simpan menjadi satu di pusat sumber belajar dalam suatu tatanan yang khusus. secara historis menurut mudhofir (1992) , pertumbuhan pusat sumber belajar merupakan suatu kemajuan bertahap  di mulai dari perpustakaan yang hanya terdiri dari media cetak. dalam melaksanakan kegiatannya perpustakaan menanggapi permintaan-permintaan dan memberikan pelayanan kepada para konsumen yang bervariasi secara luas.
Dengan demikian meluasnya kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin di perlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pada bahan pengajaran yang baru melalui produksi audiovisual di gabung dengan perpustakaan yang melayani media cetak, maka timbul pusat multimedia.
Timbul pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar nontradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Pusat sumber belajar (learning resources centres) sendiri oleh Irving R. Merill and Harold A Drob (1977) di definisikan sebagai : “ an organized consisiting of director, staff and equipment housed in one or more specialized facilities for production, procurement and presentation of instructional materials and profision of developmental and planning services related to the curriculum and teacing on a general university, campus “. pusat sumber belajar oleh fred pervical & henry ellingtong (1988 : 126) di sebut juga sebagai laboratorium alat bantu belajar yang berfungsi melayani berbagai kebutuhan individual suatu fakultas, sekolah atau akademi.
Dengan demilian, tujuan umum pusat sumber belajar adalah “ meningkatkan efektivitas dan efesien kegiatan PBM melalui pengembangan system intruksional “. Segala sumber dan bahan, segala macam peralatan audiovisual, segala jenis personel yang ada di dalam pusat sumber belajar di maksudkan untruk membantu meningkatkan efektivitas dan efesiensi interaksi siswa pengajar dalam proses pembelajaran.
Adapun tujuan khususnya adalah sebagai berikut :
1.      menyediakan pilihan komunikasi pembelajaran.
2.      mendorong penggunaa cara-cara belajar baru.
3.      memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lamjut.
4.      penelitian tentang pemanfaatan media pembelajaran.
5.      menyebarkan informasi tentang berbagai sumber belajar.
6.      memberikan konsultasi untuk modefikasi dan desain produksi sumber belajar
7.      layanan pemeliharaan atas berbagai peralatan.
8.      menyediakan pelayanan evaluasi.

Pusat sumber belajar di manfaatkan di berbagai tingkat pendidikan melalui cara yang secara mendasar berbeda, dan cara penggunaanya tergantung pada keputusan tentang luas atau tingginya tingkat dan sifat strategi pendekatan intruksional yang dipakai.
Pusat sumber belajar dapat mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan sumber belajar umtuk para siswa dalam berbagai bentuk dan jenisnya, lengkap dengan perangkat kerasnya yang sesuai di perlukan untuk penggunaan sumber belajar tersebut. Dengan system belajar yang begitu luwes para siswa sering memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan sumber belajar secara bebas dan mudah yang ada pada pusat sumber belajar di lembaga pendidikan induk. Mereka diizinkan untuk hadir pada waktu kapan saja yang sesuai dengn kesempatan waktu mereka.
Bahkan saat ini keberadaan pusat sumber belajar telah di jadikan syarat bagi perguruan tinggi yang ingin menjadi penyelenggara program pendidikan jarak jauh.
            Zainal A. hasibuan dari fakultas ilmu computer universitas Indonesia dalam makalahnya yang di sampaikan dalam “seminar pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidkan jarak jauh dalam rangka peningkatan mutu pemebalajaran“
pada 12 Desember 2006 di Jakarta menyampaikan beberapa garis besra SK Mendiknas No. 107/U/2001 untuk pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ) sebagai berikut :
Ø  PTJJ di selenggarakan perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan
Ø  untuk menjaga kualitas pendidikan persyaratan yang harus di penuhi antara lain :
§  mempunyai sumber daya manusia dan fasilitas produksi yang mampu mengembangkan materi belajar mandiri untuk di sebar luaskan kepada peserta didik.
§  mempunyai kemampuan memutakhirkan bahan ajar setiap tahun sesuai perkembangan global.
§  memiliki pusat sumber belajar yang di kelola secara penuh waktu.
Ø  perguruan tinggi bersangkutan juga harus mempunyai sumber daya umtuk melakukan evaluasi hasil belajar secara terprogram.
Ø  mempunyai izin pelenggaraan program studi secara tahap muka dalam bidang studi yang sama dan telah terakreditasi oleh badan akreditasi nasional perguruan tinggi (BAN-PT) dengan nilai A atau U (unggulan).
Kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia sebenarnya telah lama di laksanakan  dan di kembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. seiring denagn perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di masyarakat, secara langsung dan tidak langsung telah mempengaruhi perkembangan pendidikan jarak jauh, baik dari sisi proses pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran.















BAB III
PEUTUP

Kesimpulan
pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunaanya, yakni secara perorangan, kelompok dan missal. pemanfaatan media secara perorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaanya, sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara mandiri, secara modul. pemanfaatan media secara kelompok kecil (2 s/d 8 orang) maupun kelompok besar (9 s/d 40 orang). media untuk kelompok ini biasanya di lengkapi buku petunjuk bagi pimpinan kelompoknya. setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat melakukan diskusi. terakhir, media yang di manfaatkan secara missal ( mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). media untuk missal ini biasanya di salurkan melaui pemancar, seperti radio dan televisi.  sebelum memanfaatkan  media ini, peserta di beri bahan tercetak yang memuat tujuan pembelajaran, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan dari sumber lain untuk pendalaman pemahaman.
Dengan demikian meluasnya kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin di perlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pada bahan pengajaran yang baru melalui produksi audiovisual di gabung dengan perpustakaan yang melayani media cetak, maka timbul pusat multimedia.






DAFTAR PUSTAKA

Munadi,yudhi. (2010). “ Media Pembelajaran “: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta:
PT Gaung Persada Press.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Biografi Ir Soekarno

Ir. Soekarno (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) ia merupakan  Presiden In...