Hakikat kesulitan belajar
Kesulitan belajar atau learning disability yang biasa juga disebut istilah learning disorder atau learning difficulty adalah suatu kelainan yang membuat individu yang bersangkutan sulit untuk melakukan kegiatan belajar secara efektif. Faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar tidak mudah untuk ditetapkan karena faktor tersebut bersifat kompleks. Bahkan, faktor penyebab tersebut tidak dapat diketahui, namun mempengaruhi kemampuan otak dalam menerima dan memproses informasi dan kemampuan dalam belajar bidang – bidang studi tertentu.
Kesulitan belajar tidak berhubungan langsung dengan tingkat inteligensi dari individu yang mengalami kesulitan, namun indivdu tersebut mengalami kesulitan dalam menguasai ketrampilan belajar dan dalam melaksanakan tugas – tugas spesifik yang dibutuhkan dalam belajar seperti yang dilakukan dalam pendekatan dan metode pembelajaran konvensional. Kesulitan belajar merupakan isu yang berkepanjangan didalam dunia pendidikankarena kelainan ini sulit untuk diatasi, namun dengan dukungan dan intervensi yang tepat, individu yang berkesulitan belajar dapat melaksanakan tugas – tugas belajarnya dan sukses dalam pelajarannya, dan bahkan memiliki karier yang cemerlang setelah mereka dewasa.
Kesulitan belajar dapat dipahami melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh berbagai ahli dan asosiasi ahli kesulitan belajar. Reid (1986:12) mengemukakan pendapatnya bahwa kesulitan belajar biasanya tidak dapat diidentifikasi sampai anak mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas – tugas akademik yang harus dilakukannya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa siswa yang teridentifikasi mengalami kesulitan belajar memiliki cirri – cirri, antara lain seperti berikut ini :
Memiliki tingkat intelligensi (IQ) normal, bahkan diatas normal, atau sedikit dibawah normal berdasarkan tes IQ, namun siswa memiliki IQ sedikit dibawah normal bukanlah karena IQ-nya yang dibawah normal, akan tetapi kesulitan belajar yang dialaminya menyebabkan ia mengalami kesulitan dalam menjalani tes IQ sehingga memperoleh score yang rendah.
Mengalami kesulitan dalam beberapa mata pelajaran, tetapi menunjukan nilai yang baik pada mata pelajaran yang lain.
Kesulitan belajar yang dialami siswa yang berkesulitan belajar berpengaruh terhadap keberhasilan belajar yang dicapainya sehingga siswa tersebut dapat dikategorikan kedalam lower achiever (siswa dengan pencapaian hasil belajar dibawah potensi yang dimilikinya).
Secara tradisional, siswa yang mengalami kesulitan belajar termasuk ke dalam individu yang mengalami penyimpangan dalam perkembangannya, namun tidak dapat dimasukan kedalam kelompok individu yang mengalami keterbelakangan mental atau tuna grahita karena mereka memiliki tingkat inteligensi yang normal, bahkan diatas normal.
Kesadaran untuk tidak memasukkan siswa yang mengalami kesulitan belajar kedalam kelompok tuna grahita karena individu tersebut belum tentu dapat dikelompokkan kedalam kelompok tuna grahita, walaupun ia membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus untuk beberapa mata pelajaran, semakin meningkat. Pada saat ini, pelayanan pendidikan secara khusus telah diberikan kepada siswa berkesulitan belajar, walaupun belum di lakukan secara efektif.
Sumber :
Jamaris,Martini.2014.”Kesulitan Belajar.”Perspektif, Assessment, Dan Penanggulangannya Bagi Anak Usia Dini Dan Usia Sekolah”.Bogor:Penerbit Ghalia Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar